Sabtu, 14 Juli 2012

SMAN 2 KS Baksos di Bantaran Kali Code


Saat tiba di kampung Code
  *Catatan Perjalanan
Yusuf - Yogyakarta

SMAN 2 KS Baksos di Bantaran Kali Code
Rasa peduli siswa SMAN 2 KS timbul saat mengunjungi pemukiman warga kampung Code yang terdapat di bantaran kali Code, Kota Baru, Yogyakarta, Selasa (3/7). Dalam rangkaian Field Study Bali and Jogja 2012, mereka pun melaksanakan kegiatan yang bersifat sosial dengan memberikan bantuan paket sembako. Paket tersebut diserahkan secara simbolik ke Ketua RT kampung Code, Darsam.
Menunggu instruksi
Ia mengatakan, kunjungan seperti ini amat diharapkan. Karena mempunyai dampak positif terhadap anak-anak di kampung, agar mempunyai semangat tinggi dan motivasi untuk belajar.

Dampak positif lainnya, darsam menuturkan, warga kampung dapat termotivasi untuk tidak senantiasa bergelut dalam aktivitas kesehariannya, yakni sebagai buruh dan pemulung sampah. Warga pun dapat saling berhubungan dan bersinggungan secara langsung dengan saudara-saudara yang datang dari luar. Mereka dapat belajar tentang kehidupannya.
“Penelitian yang diadakan siswa SMAN 2 KS ini, kami sambut bahagia. Di sini mereka dapat mengetahui dan melihat secara langsung kehidupan sosial, ekonomi, dan agama masyarakat Code,” ujarnya.
Gotong royong
Di kampung ini, siswa turut meneliti tentang kerukunan beragama, yakni hubungan antara Islam dan Kristen. Darsam mengatakan, tidak ada konflik yang terjadi selama puluhan tahun hidup berdampingan. Bahkan saat hari raya Idul Adha umat muslim saling berbagi daging kurban kepada umat Kristiani.

Selain itu, siswa pun mengamati nilai-nilai kehidupan masyarakat kampung Code yang menjunjung tinggi gotong royong. “Di sini kami semua ikut membantu, merasakan, dan meringankan. Jika ada warga yang mempunyai masalah,” ujar Darsam.
Saat berdiskusi
Ardan Sandi panitia siswa bagian umum menerangkan, kunjungan ke kampung Code bertujuan, supaya siswa SMAN 2 KS turut merasakan pola hidup sederhana dan serba kekurangan. Terlebih lokasinya berada di bantaran kali.

“Saya merasa prihatin atas keadaan ekonomi masyarakatnya, tetapi saya terharu melihat perjuangan mereka untuk tetap hidup walau serba kekurangan,” ujarnya. Ia pun merasa salut kepada masyarakat Code, yang tetap menjaga lingkungan agar terlihat bersih dan nyaman untuk ditinggali.

Belajar Toleransi Umat Beragama di Bali - Catatan Perjalanan (SMAN 2 KS)



Di dalam pura, tour guide menerangkan tentang aktivitas umat Hindu dalam beribadah

*Catatan Perjalanan
Yusuf - DENPASAR

Belajar Toleransi Umat Beragama di Bali
Puri Wisata sebagai penyedia jasa perjalanan wisata yang mendampingi rombongan SMAN 2 KS Field Study Bali and Jogja 2012, memberikan kesan berbeda pada penelitian pertama setibanya di Bali, Jumat (29/6). Rombongan berkunjung ke kawasan Puja Mandala, sebuah tempat peribadahan yang di bangun dalam satu komplek, yakni Masjid, Pura, Vihara, Gereja Protestan, dan Gereja Katolik.
Sedang menaruh canang
Tujuannya, guna meneliti kerukunan dan tingkat toleransi antar umat beragama di Bali. Pemandu wisata Bali Agus Gede Nuryana mengatakan, kunjungan ini memberikan kesan berbeda terutama bagi warga Indonesia. Kerukunan antar umat beragama begitu tinggi disini, dan dari itu pula warga Bali mendapatkan rejeki lebih.
“Kerukunan dan disiplin itu adalah kunci toleransi antar umat beragama. Berbeda keyakinan boleh, tetapi kita harus tetap satu,” ujarnya.
Menurut Agus, siswa SMAN 2 KS merupakan salah satu generasi bangsa yang dapat mengokohkan pundi-pundi Negara ini. Agama itu penting bagi bangsa Indonesia, agar tetap mengendalikan diri dari jaman yang terus berubah dan menguatkan iman kita.
Sementara itu, peserta field study Fitria Putri menjadi lebih tahu akan keunikan dan perbedaan masing-masing agama, mulai dari tata cara ibadah hingga gaya bangunannya. “Ternyata berbeda agama itu tidak membuat pecah satu umat dengan yang lainnya. Terbukti di sini, toleransinya begitu tinggi dan saling menghargai,” ujarnya.
Saat di Gereja
Chief Security Gereja Katolik Rumanus Ritan menilai, kunjungan siswa SMAN 2 KS ini begitu baik dan bagus. Karena dapat menambah pengetahuan hubungan antar umat beragama di Bali.
Selain mengunjungi Kawasan Puja Mandala, rombongan field study turut meneliti jalannya roda perekonomian di Tanjong Benoa dan berlayar untuk meneliti kehidupan penyu di pulau Tanjong Benoa, Denpasar.
Di pantai Kuta pun, siswa tidak hanya refreshing tetapi mewawancarai turis mancanegara untuk dimintai pendapatnya tentang Bali.

Tertarik Melihat Bali Mini - Catatan Perjalanan (SMAN 2 KS)



Upacara Melasti
*Catatan Perjalanan
Yusuf - GIANYAR 

Tertarik Melihat Bali Mini
Bali memang menjadi daya tarik wisatawan lokal dan mancanegara dengan budaya, kesenian, hingga tata cara beribadah mereka menjadi sorotan dunia. Itu pun yang menjadi daya tarik peserta penelitian siswa SMAN 2 KS Cilegon dalam Field Study Bali and Jogja 2012 mengunjungi Bali Culture Center (BCC) atau akrab disebut Bali Mini, Ubud, Gianyar, Sabtu (30/6).
Saat siswa datang, BCC menyambutnya dengan parade melasti. Proses penyambutan yang biasa diadakan saat tahun baru saka, yang bertujuan guna pen-sucian. Lalu di sambung dengan sajian tari sekar jagat, tarian yang dipersembahkan untuk menyambut tamu yang datang ke Bali.
Tari sekar jagat; penyambutan tamu
Pemandu Lokal BCC Gusti Ngurah Adiyatmika mengatakan, siswa dapat mempelajari kebudayaan yang ada di dalam masyarakat Bali, seperti umat beragama Hindu yang membuat canang. “Di sini mereka dijelaskan tentang ritual Barong Bangkal yang fungsinya untuk menolak bala. Lalu prosesi ogoh-ogoh yang diadakan sebelum hari raya Nyepi untuk membangunkan penguasa alam atau Bute Kala agar tidak mengganggu warga saat melakukan Nyepi,” ujarnya.
Ia menambahkan, siswa pun diajak untuk melihat wayang lemat khas Bali yang biasa dipertunjukkan saat upacara berlangsung. Selain itu, mereka diajak untuk melihat prosesi menumbuk padi dan pembuatan minyak kelapa tradisional. Di akhir mereka dipersembahkan tarian Bali, koleksi BCC.

Menonton Wayang Lemat
Gusti menilai, siswa SMAN 2 KS antusias sekali dalam menyimak pemaparan dari pemandu. Mereka menanyakan seputar kebudayaan, tata cara beribadah, hingga adat istiadat. Salah satu siswa sempat menanyakan, mengapa patung Dewi Saraswati memegang gitar.
Ketua pelaksana field study Muhammad Ridho merasa perlu untuk datang ke BCC, karena peserta penelitian dapat menggali dan mengenal lebih dalam kehidupan masyarakat yang ada di Bali.
“Mereka tahu tentang Barong, tari sekar jagat, hingga nama-nama yang dipakai oleh orang Bali. Saya bersama teman-teman, merasa seperti tamu terhormat. Karena untuk dapat mengunjungi tempat ini tidak mudah, tidak sedikit biayanya, dan pelayanannya begitu baik,” ujar dia.
Hari kedua di Bali, peserta penelitian turut mengunjungi Galuh dan Cah Ayu tempat yang mereplika rumah adat Bali. Lalu dilanjutkan ke BCC, serta sanggar tari bali Dana Swara dan Dewa Kompiang Tapa, batik and wood carving (pembuatan batik di bed cover). Malamnya peserta penelitian, akan melakukan presentasi bersama di Hotel Nusa Indah, Denpasar.