Selasa, 01 Mei 2012

Resume; Rizal Malaranggeng - Mendobrak Sentralisme Ekonomi (1986-1992)

BAB I

Gagasan dan Penyusunan Kebijakan Publik

Di Indonesia kebijakan sentralistis mempunyai riwayat panjang. Bahkan bisa dikatakan bahwa sejarah kebijakan ekonomi di negeri ini sebagian besar adalah sejarah tentang bagaimana birokrasi Negara merumuskan dan memainkan perannya dalam menciptakan pasar. Pemerintah dan system politik berganti-ganti, tapi hubungan Negara dan pasar relative hanay sedikit berubah.

Richard Robison, menjelaskan bahwa sejarah Indonesia merupakan sejarah merupakan sejarah kapitalisme yang berkembang dan berubah dari satu tahap ke tahap lainnya, dan dalam proses histroris ini Negara memainkan peran sangat penting. Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa terjadinya liberalisasi menandakan bahwa kompetisi pengaruh dalam proses kebijakan pada akhirnya dimenangkan oleh kapitalisme internasional. Tekanan modal global agaknya terlalu kuat untuk dilawan oleh Negara maupun oleh borjuasi domestic.

Rizal Malaranggeng dalam buku ini ingin menekankan pada apa yang disebut oleh Isaiah Berlin sebagai the freedom of human action, interdeterminisme dalam memandang tindakan dan perilaku actor-aktor di apnggung sejarah (1975: 41-188), sehingga perhatian saya lebih tertuju pada pentingnya peran para pelaku dan proses politik.


BAB II

Latar Belakang Sejarah: Kebijakan Ekonomi Orde Baru Sebelum 1966

Mohammad Hatta atau Prof Sumitro Djojohadikusumo, kaum elite Indonesia pasca-Revolusi, yang lingkarannya sebenarnya sangat kecil, selalu ada kecenderungan untuk terus menerus mengandalkan intervensi ekonomi Negara. Mereka senantiasa memandang dengan penuh curiga pada proses perdagangan dan bekerjanya system ekonomi pasar. Dalam hal ini bisa dikatakan sejarah intelektual Indonesia sampai awal 1960-an sangat diwarnai oleh perkawinan antara nasionalisme dan sosialisme, dalam berbagai bentuk.

Widjojo, menyerukan kepada pemerintah untuk lebih menghormati hukum-hukum ekonomi dan realitas ekonomi yang relatih otonom. Beserta kawan-kawannya, Widjojo menjadi salah satu pengkritik system ekonomi Soekarno yang paling dihormati dan menjadi konseptor paling jernih tentang perlunay serangkaian kebijakan baru bagi orde mendatang.

Terkesan dengan gagasan, Widjojo dan kawan-kawannya saat menyusun naskah mengenai jalan keluar untuk menstabilkan dan merehabilitasi perekonomian bangsa. Soeharto memanggilnya secara peribadi untuk mengadakan pertemuan dan diskusi. Sang penguasa baru ini yang telah menggantikan Soekarno atau Orde Lama ingin mempelajari lebih dalam berbagai gagasan dan usulan mereka – dan tak lama kemudian mereka diangkat sebagai penasihat ahli.

Kebijakan ekonomi Orde baru dari 1966 sampai sekitar awal 1980-an bercabang dua. Pada tahun-tahun awal orientasi kebijakan sangat dipengaruhi oleh semangat untuk membuka diri ke luar, mendorong langkah-langkah rehabilitasi dan liberalisasi ekonomi. Para pelaku utama yang mendorong kebijakan semacam ini disebut sebagai kaum teknokrat, yaitu Widjojo dan kawan-kawannya. Mereka, yang sering pula dijuluki serbagai the Berkeley Mafia, yakin bahwa perekonomian warisan pemerintah Soekarno yang bobrok hanya dapat diperbaiki dengan menghormati hukum-hukum ekonomi, menyehatkan peran mekanisme pasar, dan membuka pintu bagi perdagangan dunia. Mereka tidak menentang peran aktif Negara dalam perekonomian, namun mereka yakin bahwa intervensi Negara harus meningkatkan kinerja pasar dengan mengikuti berbagai ketentuan rasionalitas ekonomi.

Pemerintahan Soeharto yang paling awal mengirim kawat kepada Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia berisi pesan bahwa Indonesia ingin memperbarui keanggotaannya. Demikianlah, tim pertama IMF tiba di Indonesia, dan bulan berikutnya menyusul tim Bank Dunia. Keputusan untuk menghidupkan kembali hubungan dengan lembaga liberal Bretton Woods tersebut diambil bukan hanya karena tim ekonomi Soeharto memerlukan bantuan teknis dalam menyusun rencana yang masuk akal, tetapi juga, dan ini yang terpenting, karena pemerintah baru ingin menunjukkan kseungguhannya dalam membuka diri pada komunitas keuangan dunia.

Sebelum era bonanza minyak pada awal 1970-an, Intergovernmental Group On Indonesia (IGGI) memberikan ruang bernafas yang lebih lega bagi tim ekonomi Orde Baru – harus diingat bahwa pada tahun 1967 jumlah bantuan luar negeri mencapai 30 persen dari total pengeluaran pemerintah untuk menelurkan berbagai kebijakan ekonomi yang secara politik cukup mengandung risiko.

Dalam garis besarnya kebijakan ekonomi Orde baru dari 1966 sampai 1973 menunjukkan bahwa gagasan Widjojo dilaksanakan dengan relatif sungguh-sungguh. Pintu perekonomian Indonesia dibuka, investor asing disambut baik, suplai uang stabil, nilai tukar “dibebaskan”, dan sector perbankan direformasi. Hasilnya sangat mengesankan: pada akhir 1960-an inflasi dapat dikendalikan, penanaman modal asing dan dalam negeri melonjak, kredibilitas bank-bank Negara pulih, dan produksi secara keseluruhan meningkat.

Pada maret 1973, ketika Soeharto terpilih kembali untuk menjadi presiden yang kedua kalinya, terbit harapan di beberapa kalangan akan munculnya gerakan yang lebih besar menuju liberali ekonomi, semacam Liberalisasi Tahap Kedua yang menjangkau berbagai bidang ekonomi yang sejauh itu masih belum terjamah.

Oleh karena itu mereka mencoba menyakinkan pemerintah maupun rakyat bahwa strategi Widjojo harus diganti dengan strategi yang lebih meningkatkan kepentingan bisnis kaum pribumi, meningkatkan pemerataa pendapatan, melindungi pasar dalam negeri, dan lain-lain.Harapan itu bukannya tanpa dasar. Soeharto, ketika membentuk kebinetnya yang kedua, telah meningkatkan peran kaum teknokrat dan member mereka lebih banyak jabatan formal yang memiliki kewenangan formal dalam menangani berbagai masalah ekonomi. Posisi-posisi baru tersebut mengisyaratkan kemenangan poltik Widjojo dan kawan-kawannya.

Selain itu kedudukan baru mereka juga mengisyaratkan bahwa Soeharto, yang secara bertahap berhasil mengkonsolidasikan kekuasaan politiknya pada awal dan pertengahan 1970-an, sudah semakin percaya pada kaum teknokrat dan telah memutuskan bahwa arah kebijakan ekonomi pasca-1966 akan terus dilanjutkan.

Ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Ketika kaum teknokrat memperoleh “kemenangan politik” pada skala belum pernah mereka capai sebelumnya, berbagai kritik dan sikap permusuhan terhadap peran dan berbagai gagasan mereka mengenai pembangunan serta kebijakan liberalisasi ekonomi mulai muncul, dan dengan cepat memuncak. Sebelumnya, saat Wdijojo dan kawan-kawan masih dianggap sebagai orang universitas, perumus-perumus kebijakan yang berasal dari “luar system”, dengan tugas utama memberikan berbagai nasihat professional kepada sang penguasa, mahasiswa dan kaum cendekiawan menganggap mereka sebagai pahlawan, wakil-wakil mereka sendiri di dalam Pemerintah Orde baru. Dengan posisi seperti itu mereka terhindar dari berbagai kecaman pedas apabila kaum cendekiawan dan mahasiswa memprotes kebijakan pemerintah.

Demikianlah, dengan berjalannya waktu, semakin terlihat jelas bahwa mereka dan strategi pembangunan yang mereka perjaungkan menjadi salah satu target utama dari berbagai protes mahasiswa dan kaum cendekiawan, yang mencapai puncaknya pada peristiwa Malari.

Sarbini Sumawinata termasuk kelompok Hatta, mengusulkan agar sentralisme pembangunan Indonesia diperkuat serta dikelola berdasarkan strategi industry substitusi-impor (ISI), suatu strategi yang waktu itu memang sedang populer di Negara-negara sedang berkembang.

Kritiknya terhadap kaum teknokrat, sebagaimana yang juga disampaikan oleh Hatta, didasarkan pada pandangannnya bahwa mereka (kaum teknokrat) telah mendorong Indonesia terlalu jauh menempuj jalan kapitalis, yang akan membuat masyarakat menjadi kapitalis, suatu masyarakat yang pada dasarnya serba tidak adil. Kaum cendekiawan dan aktivis mahasiswa menyakinkan masyarakat bahwa berbagai program yang dijalankan oleh Widjojo telah membawa Indonesia masuk terlalu jauh ke dalam liberalisme ekonomi. Program-program tersebut, kata para pengkritiknya, semakin memperlebar jurang sosial dan ekonomi serta menyebabkan Indonesia didominasi oleh pihak asing.

Mochtar Lubis yang juga termasuk dalam Kelompok Empat Hatta, Sarbini, dan Soedjatmoko, mampu mengkomunikasikan berbagai pesan dengan bahasa yang sederhana dan tajam sehingga menarik perhatian dan dukungan masyarakat, baik secara intelektual maupun emosional.

Pendek kata, pihak yang merebut perhatian dan mempengaruhi wacana intelektual saat itu adalah Kelompok Empat. Berbagai kritik mereka disebarkan secara luas oleh berbagai koran terkemuka, terutama Indonesia Raya, Pedoman, Merdeka, Ekspress, serta, yang agak lebih lunak, Kompas, dan Tempo.

Momentum baru terjadi diantara kritik yang membucah dan membuat kaum teknokrat dan pemerintah Soharto keder. Yakni kunjungan Perdana Menteri Jepang Tanaka, 12 Januari 1974. Jepang dianggap liberalisme karena perusahaa-perusahaannya membuka hotel-hotel dan perakitan mobil di Jakarta, pada saat yang sama Amerika menanamkan investasinya yang lebih dari Jepang, mengeruk sumur-sumur minyak di lepas pantai dan menambang emas di hutan-hutan Irian. Siapa yang peduli dengna minyak di lepas pantai dan emas di Hutan. Investasi Amerika tidak terlihat secara kasat mata, namun Jepang sangat jelas.

Inilah alasan perusahaan-perusahaan Jepang dijadikan target perusakan Mahasiswa di Jakarta dan “masyarakat” – tumpah dijalan disusul dengan kerusuhan missal, pembakaran, dan pembunuhan. Pusat kota Jakarta seketika mati berfungsi selama dua hari. Hampir 1.000 mobil, kebanyakan buatan Jepang, dan 144 gedung dibakar atau dirusak, Sembilan orang meninggal, lebih seratus cedera, dan 820 ditangkap (Bresnan, 1993: 137). Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa Malari – Malapetaka 15 Januari.

Setelah Malari meledak beberapa cendekiawan dan pemimpin mahasiswa memang dikirim ke bui, tetapi gagasan dan tuntutan mereka diakomodasi. Pada tingkat tertentu berbagai gagasan kritis mereka, dalam rumusan Kuhn, berubah menjadi paradigma kebijakan ekonomi baru. Oleh karena itulah arah kebijakan Orde Baru pasca-Malari berubah cukup mendasar.

Hatta, Sarbini, Soedjatmoko, Mochtar Lubis, serta para cendekiawan muda dari berbagai kampus, dengan cara-cara mereka sendiri berhasil menyakinkan Soeharto dan beberapa tokoh kunci di dalam pemerintahnya bahwa kebijakan ekonomi liberal akan menimbulkan beban politik yang terlalu besar bila dilaksanakan lebih jauh. Sebagian dari para pengkritik itu dikirim ke penjara, tetapi gagasan dan kritik mereka tidak.

Dibidang keuangan dan moneter kecenderungan sentralistis semakin terasa terasa ketika kaum cendekiawan mulai mengkritik pemerintah dan gencar menuntut bantuan keuangan yang lebi langsung bagi pengusaha pribumi berskala kecil dan penghentian dominasi ekonomi keturunan Tionghoa.

Perubahan tersebut juga dimungkinkan oleh munculnya bonanza minyak. Sebagai salah satu Negara pengekspor minyak terpenting Indonesia menikmati rezeki nomplok berupa kenaikan harga minyak pada 1973. Dengan uang minyak yang melimpah, pemerintah berada dalam kondisi keuangan yang amat baik untuk melaksanakan kebijakan baru yang sentralisiis.

Kebijakan baru tersebut meliputi bidang yang luas. Di sektor keuangan dan moneter beragam jenis kredit baru yang bertujuan memabntu pengusaha pribumi diluncurkan. Operasi bank-bank swasta dan asing lebih dibatasi, dan pembatasan plafon kredit kembali diberlakukan. Di sektor perdagangan dan investasi pelarangan dan pembatasan juga diperluas. Di sektor industri strategi ISI dilaksanakan dengan semangat menggebu dan pada saat yang sama proyek-proyek padat-modal diperluas dan didorong dengan sunguh-sungguh.

Semua itu mengubah gambaran perekonomian Indonesia. Negeri ini mulai menapaki jalan industrialisasi, dan pada saat yang sama intervensi Negara di bidang ekonomi menjadi lebih intensif. Pada awal 1980-an pemerintah secara efektif menguasai porsi terbesar dari berbagai sektor ekonomi terpenting serta mengawasi dan mengatur pasar domestic secara ketat. 
 

BAB III

Menemukan Kembali Pasar: Krisis dan Reaksi Kaum Teknokrat

Setelah ekspansi sentralisme berlangsung hampir satu dasawarsa, perekonomian Indonesia menghadapi masalah yang semakin berat, yakni ketika harga minyak jatuh pada awal 1980-an. Dampak kejatuhan ini, ditambah resesi ringan yang terjadi secara global, menyentuh hampir semua aspek kehidupan perekonomian Indonesia. Pemerintah, yang waktu itu telah menjadi agen utama pembangunan, sangat bergantung pada ekspor minyak untuk membiayai berbagai programnya menggiring pemerintah ke sudut yang sangat sempit.

Bagi rezim yang menggantungkan legitimasinya pada keberhasilan pembangunan ekonomi keadaan tersebut tak bisa dianggap enteng. Pada 1980 Soeharto sudah semakin dominan. Dengan kokoh dia mengendalikan pemerintahan terpusat dan memimpin masyarakat yang kurang-lebih stabil, sebab dia dan pemeritahnya relative telah berhasil memberikan “telur emas”. Oleh karena itu ketika keberhasilan ekonomi Orde Baru terancam ia harus mengambil sejumlah langkah baru dan mengkaji kembali kebijakannya. Dalam hal inilah kita bisa berkata bahwa pintu kesempatan untuk mengubah kebijakan Orde Baru terkuak ketika harga minyak mulai jatuh. Masa-masa sulit, dengan kata lain, merupakan berkah terselubung yang memungkinkan terjadinya reorentasi kebijakan ekonomi.

Kendati demikian pintu kesempatan yang terbuka itu, bagaimanapun, tidak akan bermakna apa-apa tanpa peran kaum teknokrat. Merekalah yang menangkap peluang dan menyakinkan berbagai pihak bahwa kebijakan sentralistis sudah gagal. Oleh karena itu suatu resep baru, yaitu deregulasi atau liberalisasi ekonomi, dibutuhkan.

Para teknokrat memebrikan sumbangan mereka dari dalam pemerintahan, Kendati selama ekspansi sentralistis yang berlangsung setelah peristiwa Malari mereka diberi kedudukan tinggi di dalam pemerintahan, pengaruh mereka dalam menentukan arah kebijakan ekonomi, khususnya di bidang industry, perbankan, dan perdagangan, justruu semakin melemah. Dengan dukungan penuh dari Soeharto, pendukung sentralisme berada di atas angin. Keadaan berubah ketika masa-masa yang sulit muncul. Para teknokrat mengerti bahwa Soeharto dan pemerintahnya memerlukan mereka untuk mencari jalan keluar. Sebagaimana yang telah kita lihat sebelumnya pada 1965-1967, kali ini pun mereka menangkap peluang itu. merekalah actor-aktor di panggung kebijakan yang paling bertanggungjawab dalam menyakinkan Soeharto dan tokoh-tokoh pemerintahan lainnya bahwa perekonomian Indonesia akan menjadi lebih baik jika kebijakan baru diterapkan.


BAB IV

Menabur Gagasan: Komunitas Epistemis Liberal dan Perannya

Kaum teknokrat, betapapun pentingnya peran mereka, secara politis sangat terikat: mereka adalah bagian dari Pemerintah Soeharto. Oleh karena itu, mereka tidak bisa menjadi technopols, dalam istilah john Williamson (1994). Mereka harus dengan senang hati mengerjakan pekerjaan mereka di bawah baying-bayang Soeharto, dibelakang layar. Jadi mereka tak bisa secara terbuka membangun atau memperbesar pengikut mereka dengan mendiskreditkan kebijakan-kebijakan lama yang sudah lewat zamannya atau berargumentasi untuk mempetahankan kebijakan-kebijakan baru. Apabila mereka terlalu sering tampil di depan umum, atau kelihatan terlalu bersemangat membela gagasan-gagasan mereka, atau menjadi terlalu populer, Soeharto pasti akan mempersulit uapaya mereka untuk mengubah arah kebijakan ekonomi.

Itulah sebabnya mengapa peran jaringan komunitas epistemis liberal, yang saat itu tumbuh cukup pesat, menjadi penting. Anggota komunitas ini menjadi satu-satunya kelompok yang berperan dalam mendiskreditkan orientasi kebijakan warisan zaman terdahulu, memperdebatkan sentralisme, dan menjelaskan kepada masyarakat berbagai masalah ekonomi fundamental serta solusi kebijakan liberal. Dengan kata lain bukan para indusrialis, kaum kapitalis, para banker, atau kelas menengah pada umumnya yang mengusulkan atau maju ke depan mempertahankan solusi beru terhadap berbagai masalah mendesak yang muncul saat itu. yang melakukannya adalah para ekonom, intelektual, penulis, dan wartawan.

Mereka memulai upaya mereka pada 1983, dan momentum intelektual yang paling besar muncul pada 1985. Sejak itu, sampai sekitar 1987, gagasan-gagasan mereka, mengutip rumusan Kuhn, menjadi the normal science. Pada saat itu juga respon intelektual mereka terhadap berbagai persoalan yang menjepit Indonesia memperoleh sambutan yang lebih besar dari public yang memungkinkan para teknokrat mengubah kebijakan ekonomi pemerintah dengan kecepatan tinggi.


BAB V

Liberalisasi Ekonomi: Jangkauan dan Keterbatasannya

Pada awal 1980-an, ketika harga minyak mulai jatuh, arah kebijakan ekonomi di Indonesia tidak menentu. Kaum pendukung sentralisme ekonomi masih berada di atas angin dalam proses penyusunan kebijakan, sementara kaum teknokrat baru mulai menyadari bahwa Indonesia memerlukan suatu terobosan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada. Sepanjang periode ini terjadi peningkatan kebijakan sentralistis, seperti perizinan, kuota, dan hambatan nontariff lainnya. Pihak yang terutama diuntungkan oleh kebijakan tersebut adalah perusahaan-perusahaan Negara dan swasta yang telah membangun hubungan erat dengan elite politik dan birokrasi. Walau sentralisme meningkat, harus pula dikatakan bahwa kecenderungan dengan arah yang berbeda juga mulai muncul. Hal ini, misalnya, bisa dibuktikan dengan adanya reformasi perbankan pada 1983.

Perubahan kebijakan yang menentukan akhirnya terjadi pada 1985 dan 1986, ketika kaum teknokrat berhasil menghapuskan dinas bea-cukai dan menjalankan deregulasi di bidang perdagangan serta melanjutkan langkah-langkah reformasi di sektor perbankan. Setelah pergesaran kebijakan yang substansial tersebut, berbagai paket kebijakan baru dilahrikan selama tiga tahun berturut-turut. Semua ini merupakan puncak dari gelombang liberalisasi ekonomi di Indonesia. Sektor-sektor yang paling terkena dampak langkah-langkah baru tersebut adalah sektor perdagangan, keuangan, dan perbankan.

Tak ada cerita dalam sejarah di mana satu Negara berhasil menjungkirbalikkan system ekonominya secara fundamental tanpa menghadapi perlawanan yang besar maupun dilema-dilema yang sulit. Indonesia tidak terkecuali. Perlawanan terhadap liberalisasi ekonomi datang dari dua kubu: perusahaan-perusahaan Negara serta perusahaan-perusahaan pencari rente yang perluasan bisnisnya terutama dimungkinkan karena hubungan mereka yang erat dengan elite di tubuh pemerintah. Terhadap perlawanan kedua kubu ini Widjojo dan kawan-kawannya tak dapat berbuat banyak.

Kendati demikian, terlepas dari masalah itu, apda akhir 1980-an kebijakan deregulasi menghasilkan dampak yang penting bagi perekonomian Indonesia. Didorong antara lain oleh pertumbuhan pesat ekspor nonmigas, tingkat pertumbuhan ekonomi meroket sekali lagi. Hambatan perdagangan dikurangi, sementara sektor keuangan dan perbankan diliberalisasikan secara radikal, yang hasilnya bahkan mengejutkan kaum pendukung kebijakan ekonomi liberal yang paling optimis sekalipun.

Lebih dari itu, kebijakan deregulasi juga memiliki pengaruh tertentu di luar bidang perekonomian. Kebijakan tersebut mempengaruhi keseimbangan antara Negara dan pasar. Peran Negara menurun, sementara peran pasar meningkat. Hal ini, menurut saya, dalam jangka panjang adalah hasil terpenting dari seluruh proses pergesaran kebijakan yang dibicarakan dalam buku ini. selam kecenderugnan positif ini tidak berbalik secara radikal, pergeseran keseimbangan Negara-pasar akan menjadi basis sosio-ekonomi bagi Indonesia untuk membangun system pemerintahan yang terbuka dan bertanggungjawab di tahun-tahun mendatang.

Di bidang kebudayaan dan ideology, terjadi pula berbagai perubahan yang menarik. Pada akhir 1980-an banyak hal yang bisa dikatakan untuk menggambarkan bahwa konstituen kebiakan ekonomi liberal semakin melebar. Semakin banyak kalangan dalam masyarakat yang menyadari bahwa sampai pada batas tertentu mekanisme pasar bukanlah sebuah mekanisme yang secara alamiah jahat dan menindas. Benar bahwa masih belum jelas seberapa jauh gagasan seperti ini bisa mengakar lebih dalam. Tetapi yang terpenting, tanda-tanda awal bagi penerimaan suatu gagasan yang relative baru dalam tradisi intelektual Indonesia sudah mulai muncul. Dengan pemimpin dan kondisi yang tepat, gagasan baru ini bisa semakin menguat di tahun-tahun mendatang.


BAB VI

Tantangan baru: 1990-1992

Setelah mencapai pucaknya pada 1989, proses deregulasi melemah, pada periode 1990-1992 arah kebijakan ekonomi lebih tak pasti. Kelompok Widjojo melancarkan beberapa inisiatif liberal yang penting, namun terjadi pula berbagai peristiwa yang menunjukkan bahwa langkah-langkah sentralistis yang bertentangan dengan semangat liberalisasi mulai marak lagi.

Faktor-faktor yang berada di balik arah kebijakan yang berubah-ubah itu bersumber pada interaksi antara gagasan, kepentingan, dan politik. Pada arah gagasan, ketidakpuasan terhadap para teknokrat dan kebijakan mereka berkembang semakin luas pada periode 1990-1992. Proses liberalisasi dekonomi dianggap telah melahirkan monster baru, para konglomerat, yang sebagian besar adalah keturunan Tionghoa. Hal itu demikian tuduhan para pengkritik, sangat mempersempit peluang bagi usaha kecil untuk berkembang. Akibatnya kesenjangan ekonomi antara si Kaya dan mayoritas penduduk yang miskin semakin tak dapat di tolerir. Untuk menjawab tantangan bari itu para teknokrat dan anggota komunitas epistemis liberal bimbang. Tidak seperti periode sebelumnya, kini mereka tampak tak mampu tampil dengan berbagai argument yang masuk akal dan menyakinkan. Jadi, dari perspektif tersebtu terjadinya ambivalensi dalam arah kebijakan ekonomi Orde Baru disebabkan oleh kegagalan intelektual: koalisi liberal gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sah dari para pengkritik mereka.

Bertambah gencaranya kritik terhadap kebijakan liberalisasi itu, antara lain, yang dipakai oleh Soeharto sebagai dalih untuk mulai menempuh jalannya sendiri dan melangkahi arah kebijakan yang telah digariskan oleh para menteri ekonominya. Dengan mengambil langkah-langkahnya sendiri tanpa berkonsultasi dengan Widjojo dkk., Soeharto selam periode tersebut tampak lebih nasinalistis dan mendukung tuntutan keadilan ekoonmi. Tokoh Orde baru nomor satu tersebut semakin sering membuka peluang bagi lawan-lawan kaum teknorat dalam proses penyusunan kebijakan.

Tidak sukar untuk mengerti bahwa langkah Soeharto itu seiring dengan kepentingan politik dan strateginya untuk terus berkuasa, pada saat jaringan bisnis keluarganya semakin menggurita. Soeharto, apapun kelemahan yang ada padanya, adalah seorang politikus yang lihai, dengan penciuman yang tajam untuk mengerti arah angin. Dia ingin terus berkuasa, sekalipun sudah 25 tahun. Demi mencapai tujuan tersebut, dia tak ragu mengikat tangan orang-orang yang telah membantunya selama bertahun-tahun, termasuk para teknokratnya sendiri.

Resume; Komunikasi Politik (Khalayak dan Efek) - Dan Nimmo

BAB VII

OPINI PUBLIK: Ungkapan massa, publik, dan rakyat

Setiap orang juga membicarakan opini publik – politikus, anggota pers, pollster, bahkan orang yang duduk bermalas-malasan pun mengomel tentang pajak dan berbagai masalah lain. Politikus yang bertindak sebagai wakil menyuarakan opini publik: politikus bertindak sebagai wakil menyuarakan opini para pemilihnya, ideologi mencoba menempanya; dalam kapasitas sebagai promotor, komunikator professional berusaha mengubah opini, seabagai jurnalis mereka menginformasikannya; dan aktivis sebagai juru bicara atas nama kelompok opini, sedangkan sebagai pemuka pendapat mereka membimbing kehendak rakyat.

Apakah opini itu? Peninjauan dan Pengamatan suatu proses

Opini publik sebagai suatu proses yang menggabungkan pikiran, perasaan, dan usul yang diungkapkan warga Negara secara pribadi terhadap pilihan kebijakan yang dibuat oleh pejabat pemerintah yang bertanggung jawab atas dicapainya ketertiban sosial dalam situasi yang mengandung konflik, perbantahan, dan perselisihan pendapat tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya.

  • Kecenderungan kegiatan opini

Melalui kegiatan komunikasi memberi dan menerima diantara makna dan tindakan ini orang memperoleh kecenderungan tertentu. Kecenderungan menunjukkan garis tindakan kepada seseorang, tetapi bukan satu-satunya garis. Apa yang diperhitungkan orang saat menemukan makna dalam situasi yang baru, mungkin saja itu merupakan kecenderungan yang dimilikinya, tetapi tidak perlu selalu demikian. Apalagi, sebagai kecenderungan dari kegiatan, bukan untuk kegiatan.

  • Citra personal tentang politik

Citra seseorang membantu dalam pemahaman, penilaian, dan pengindetifikasian peristiwa, gagasan, tujuan, atau pemimpin politik. Citra membantu memberikan alasan yang dapat diterima secara subjektif tentang mengapa segala sesuatu hadir sebagaimana tampaknya, tentang preferensi politik, dan tentang penggabungan dengan orang lain.

  • Interpretasi personal tentang politik

Dengan interpretasi, individu memperhitungkan segala sesuatu, menyusunnya, dan menanggapi yang paling menonjol. Jelaslah bahwa banyak hal dan diperhitungkan orang dalam merumuskan opini pribadinya dan mengungkapkannya di depan umum.

  • Organisasi opini personal

Opini adalah tanggapan aktif terhadapa rangsangan, tanggapan yang disusun melalui interpretasi personal yang diturunkan dan turut membentuk citra. Setiap opini merefleksikan organisasi yang kompleks, yang terdiri atas tiga komponen – kepercayaan, nilai, dan pengharapan.

Penyusunan opini publik

  • Tahap-tahap pembentukan opini

Pebentukan opini ada proses empat tahap yang melibatkan kesalinglingkupan aspek personal, social, dan politik melalui munculnya (1) pertikaian yang mempunyai potensi menjadi isu, (2) kepemimpinan politik, (3) interpretasi personal dan pertimbangan social, dan (4) kesediaan mengungkapkan opini pribadi depan umum.

  • Karakteristik opini publik

Opini mempunyai isi (opini adalah tentang sesuatu), arah (percaya-tidak percaya, mendukung –menentang dsb), dan intensitas (kuat, sedang, atau lemah). Ciri-ciri tertentu opini publik, pertama terdapat juga isi, arah, dan intensitas mengenai opini public. Ciri-ciri ini menyangkut opini publik tentang tokoh politik. Kedua kontroversi menandai opini public; artinya sesuatu yang tidak disepakati seluruh rakyat. Ketiga, opini publik mempunyai volume berdasarkan kenyataan bahwa kontroversi itu menyentuh semua orang yang merasakan konsekuensi langsung, dan tak langsung daripadanya meskipun mereka bukan pihak pada pertikaian yang semula. Keempat, opini publik relatif tetap.

  • Implikasi untuk memikirkan opini publik

Implikasi sosial yang inheren dalam pandangan opini publik. Satu diantaranya menunjuk pada peran yang dimainkan oleh media massa dalam proses opini. Salah satu artinya media memang menciptakan opini publik yang tidak semata-mata dengan mengatakan kepada rakyat apa yang harus dipikirkan, fungsi agenda setting.




BAB VIII

DISTRIBUSI OPINI PUBLIK: yang satu yang sedikit, dan yang banyak

Pola opini publik

Aristoteles membagi pemerintahan ke dalam “yang Satu, yang Sedikit, dan yang Banyak”. Ketiga kelas ini masing-masing memiliki dua variasi yang menyangkut sifatnya dalam memerintah, pada hakikatnya apakah rezim itu memerintah untuk kepentingan penguasa atau untuk kepentingan seluruh komunitas. Dengan meingkuti pola demikian, kita member label ungkapan massa dengan opini yang Satu, ungkapan kelompok dengan opini yang Sedikit, dan ungkapan rakyat dengan opini yang Banyak.

  • Yang satu: Budaya politik dan konsensus masa

Pandangan yang sering digunakan para sarjana maupun para politikus: Anggapan opini public sebagai kesadaran jiwa (mood) suatu bangsa. Pemimpin politik mengacu pada publik atau kesadaran jiwa publik sebagai cara untuk mengasosiasikan kepentingan diri dengan apa yang lebih tersebar dan sah. Dalam konteks ini, opini publik sebagai kesadaran jiwa merupakan lambang lingustik yang digunakan untuk maksud mempersuasi.

  • Yang sedikit: Opini publik yang tak terorganisasi, dan yang terorganisasi

Opini publik dari yang Sedikit terdiri atas pandangan kepentingan sosial utama dan diungkapkan dalam bentuk kelompok fungsional.

Kepentingan tak terorganisasi, bila didefinisikan sebagai suatu kegiatan, suatu kelompok terdiri atas orang-orang yang melakukan kegiatan yang dipersatukan tanpa menghiraukan apakah yang mendasari kegiatan itu berupa organisasi formal atau tidak formal. Artinya, orang bergabung untuk tidak diorganisasi secara formal, membentuk kelompok atau publik opini.

Kepentingan terorganisasi, David Truman, kelompok kepentingan adalah setiap kelompok yang berdasarkan satu atau lebih sikap yang dimiliki bersama, pemeliharaan, atau peningkatan bentuk perilakunya disiratkan oleh sikap bersama. Kelompok kepentingan hanay salah satu dari banyak kelompok yang menyumbang kepada opini public dari yang Sedikit.

  • Yang banyak: Kumpulan opini rakyat

Opini rakyat tentang masalah apa pun merupakan jumlah ungkapan individual; jadi, opini rakyat mencakup distribusi jumlah seluruh dan atau persentase yang mendukung atau menentang pendirian. Isi kognitif opini rakyat relatif rendah, tetapi isi afektifnya tinggi. Rakyat mengungkapkan kepercayaan, nilai, dan pengharapan mereka tentang objek politik yang sangat banyak ragamnya. 
 

Bagian IV

Konsekuesi komunikasi politik: Dengan akibat apa?

BAB IX

BELAJAR TENTANG POLITIK: Konsekuensi Komunikasi untuk Sosialisasi

Belajar sebagai proses komunikasi

Pengadopsian pola dan perubahan tanggapan dalam diri mereka ketika menghadapi pengalaman baru itu adalah yang disebut.

  • Pandangan sibernetik

Sibernetika adalah studi tentang komunikasi di antara manusia, hewan, dan mesin, yaitu di antara sistem kontrol sendiri. Ciri utama sibernetik ialah jaringan komunikasi yang menghasilkan tindakan sebagai tanggapan terhadap masukan informasi, dan mencakup hasil tindakan sendiri.

  • Pandangan simbolik

Belajar bagi orang adalah menjumlahkan “internalisasi: makna lambang yang dipahami bersama dan, karena itu, menanggapi – atau sekurang-kurangnya seperti tanggapan yang mereka bayangkan merupakan tanggapan bersama dengan orang lain – dan menaggapi maksud orang lain sebagaimana yang disajikan dalam lambang signifikan.

Kepribadian dan politik

  • Apa kepribadian itu?

Definisi deterministik menganggap kepribadian sebagai keadaan internal individu, sebagai organisasi proses dan struktur di dalam diri seseorang: “Kepribadian adalah apa yang menentukan perilaku dalam situasi yang ditetapkan dan di dalam kesadaran jiwa yang ditetapkan”.

  • Teori dalam kepribadian politik

Teori kebutuhan, mengemukakan bahwa manusia memiliki hierarki kebutuhan psikololgis, rasa aman dan kepastian, kasih saying, penghargaan diri, dan aktualisasi diri. Perilaku manusia merefleksikan upaya untuk memenuhi kebutuhan ini.

Teori psikoanalitik, dua variasi pandangan psikoanalitik mengemukakan pendapat tentang bagaimana kepribadian mempengaruhi belajar dan perilaku politik – personal dan interpersonal. Aliran personal dari teori ini adalah tradisi Sigmund Freud, berpendapat bahwa orang bertindak atas dasar motif yang tak disadarinya maupun atas dasar pikiran, perasaan, dan kecenderungan yang disadari dan sebagian disadari.

Teori sifat, teori-teori dalam kategori ini berfokus pada kecenderungan atau predisposisi yang menentukan cara orang berperilaku. Setiap kepribadian mengandung seperangkat sifat unik dan individual.

Teori tipe, teori ini mengklasifikasikan orang ke dalam kategori-kategori berdasarkan karakteristik yang dominan atau tema pokok yang timbul berulangkali dalam perilaku politik mereka.

Teori fenomenologis, fenomologi adalah pandangan bahwa peran kepribadian dalam perilaku (termasuk kepribadian dalam politik) paling mudah dipahami dengan melukiskan peranan langsung orang – yaitu proses yang digunakan oleh mereka untuk memperhatikan dan memahami fenomena yang disajikan langsung kepada mereka.

Diri politik

  • Teori adopsi

Teori belajar sosial mengatributkan cara memperoleh kepercayaan, nilai, dan pengharapan personal kepada pengalaman individual dengan orang lain, objek, atau peristiwa.

  • Teori perubahan

Teori konsistensi adalah seperangkat model yang berfokus pada perubahan opini. Model-model ini memperhitungkan bahwa orang tidak hanya mempersepsi tanda, atau rangsangan – pokok dasar gagasan belajar sosial – tetapi juga menginterpretasi dan menanggapi tanda berdasarkan interpretasi itu.

  • Mengambil peran dan memainkan peran: Belajar diri politik

Belajar politik berdasarkan teori belajar sosial dan konsistensi adalah proses mengadopsi dan menerapkan diri politik pada tindakan orang lain yang diharapkan dan berlanjut melalui pengambilan peran dan permainan peran.

Komunikasi politik dan belajar politik: Sumber, saluran, dan pesan

  • Sosialisasi isi komunikasi interpersonal

Ada dua saluran utama komunikasi interpersonal yang membantu belajar politik, yaitu keluarga dan lingkungan . Keluarga sebagai komunikator politik, mengenai isi sosialisasi, tekanannya ialah pada memperoleh orientasi yang kelak akan membantu perilaku ekspresif dan penilai.

  • Sosialisasi isi komunikasi organisasi

Organisasi terpenting yang bermaksud mempengaruhi belajar poltiik sejak dini ialah sekolah. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolahnya, orang boleh jadi menjadi anggota berbagai organisasi – lembaga keagamaan, partai politik, kelompok kewarganegaraan, golongan yang berpengaruh, dan kelompok kerja – yang semuanya mempengaruhi belajar politik pada masa dewasa.

  • Sosialisasi isi komunikasi massa

Kegiatan media massa membantu menyusun agenda pokok masalah untuk perdebatan publik, menetapkan konteks untuk penilaian rakyat tentang kejadian, mengubah peristiwa, mempengaruhi pengharapan rakyat tentang bagaimana akhirnya peristiwa itu, dan dengan berbagai cara melukiskan citra tentang pemimpin politik.


BAB X

BERPARTISIPASI DALAM POLITIK: Konsekuensi Komunikasi yang Mempolitikkan

Komunikator politik sebagai partisipan politik

Dalam komunikasi politik, partisipan adalah anggota khalayak yang aktif yang tidak hanya memperhatikan apa yang dikatakan oleh para pemimpin politik, tetapi juga menanggapi dan bertukar pesan dengan para pemimpin politik itu. Ringkasnya, partisipan politik melakukan kegiatan bersama dan bersama-sama merupakan komunikator politik.

  • Dimensi partisipasi politik

Orang mengambil bagian dalam politik dengan berbagai cara. Cara-cara itu berbeda dalam tiga hal atau dimensi: gaya umum partisipasi, motif yang mendasari kegiatan mereka, dan konsekuensi berpartisipasi pada peran seseorang dalam politik.

Gaya partisipasi, gaya ini mengacu kepada baik apa yang dilakukan maupun bagaimana ia melakukannya.

Motif partisipasi, salah satu perangkat factor seperti itu menyangkut motif orang yang membuatnya ambil bagian.

Konsekuensi partisipasi, pembahasan mengenai segi partisipasi politik yang dipikirkan dan interpretatif dibandingkan dengan jenis yang kurang dipikirkan dan lebih tanpa disadari menimbulkan pertanyaan tentang apa konsekuensi partisipasi bagi peran seseorang dalam politik pada umumnya.

  • Tipe dan distribusi partisipasi politik

Bagian ini akan membahas dua tipe partisipasi politik – dalam pemilihan umum dan di luar pemilihan umum – dan tindakan politik yang khas yang berkaitan dengan masing-masing.

Partisipasi dalam pemilihan umum, tipe partisipasi rakyat yang dipublikasikan dan diteliti paling luas ialah pengambilan bagian dalam pemillihan umum dengna memberikan suara.

Partisipan bukan dalam pemilihan umum, partisipan di luar pemilihan umum mencakup segala kegiatan politik yang melibatkan peran serta orang pada masa dan di antara tahun-tahun pemilihan, yang sedikit sangkut-pautnya dengan kampanye politik, yaiut seperti pengungkapan opini politik, tetap mengikuti peristiwa politik, aktif dalam organisasi kepentingan umum dan organisasi politik, dan menghubungi pajabat-pejabat pemerintah.

Bagaimana partisipan menanggapi komunikasi politik

  • Jenis komunikasi

Dalam rumus Berelson, “jenis komunikasi” mengacu pada saluran komunikasi (interpersonal, organisasi, atau massa) maupun pada isi komunikasi. Setiap kampanye yang ditujukan untuk mengubah kepercayaan, nilai, atau pengharapan adalah persuasif.

  • Jenis isu

Model ini melukiskan bahwa warga Negara demokratis sebagai sesuatu yang menaruh perhatian, bermotivasi, dan berpengetahuan tentang isu, cenderung membahas isu dan masalah prinsip dan mampu secara rasional memilih cara yang paling seusai untuk mencapai tujuan yang diinginkan.


  • Jenis orang dan kondisi

Orang secara aktif melibatkan diri sendiri dalam komunikasi bahwa mereka tidak memberikan reaksi terhadap objek, tetapi menanggapinya sebagai bagian dari pengalaman keseluruhan komunikasi. Dalam kondisi bagaimana orang memperhitungkan pesan yang tersedia dalam menyusun opini mereka dan bukan memberikan reaksi berdasarkan pengalaman masa lampau, kecenderungan personal, kedudukan sosial, sifat demografis, status hukum dan sebagainya.


BAB XI

MEMPENGARUHI PEMBERIAN SUARA: Konsekuensi Komunikasi Pemilihan Umum

  • Pemberian suara dan tindakan pemberian suara: Pandangan alternatif

Orang paling banyak diterpa komunikasi persuasif kampanye adalah yang paling cenderung telah sampai kepada putusan pemberian suara; yang paling besar kemungkinannya dipengaruhi oleh imbauan persuasif adalah yang paling sedikit minatnya terhadap politik dan, karena itu, paling sedikit kemungkinannya memperhatikan komunikasi kampanye

  • Pemberi suara yang rasional

Tindakan rasional itu terdiri atas perhitungan cara atau alat yang tepat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Apakah tujuan tindakan itu rasional, tidak dipermasalahkan; kita hanya berurusan dengna alat atau cara untuk mencapainya.

  • Pemberi suara yang responsif

Ilmuwan politik Gerald Pomper membuat gambaran tentang pemberi suara yang responsive. Apabila karakter pemberi suar yang reaktif (yang oleh Pomper disebut pemberi suara yang “dependen”) itu tetap, stabil, dan kekal, maka karakter pemberi suara yang responsive adalah impernanen, berubah mengikuti waktu, peristiwa politik, dan pengaruh yang berubah-ubah terhadap pilihan para pemberi suara.

  • Pemberi suara yang aktif

Individu aktif itu menghadapi dunia yang harus diinterpretasikan dan diberi makna untuk bertindak bukan hanay lingkungan pilihan yang telah diatur sebelumnya, yang terhadapnya orang menanggapi karena sifat atribut dan atau sikap individu atau jangkauan rangsangan yang terbatas. Keterlibatan sikap yang tetap maupun dalam menanggapi imbauan kampanye yang ditetapkan sebelumnya.

Kampanye, komunikasi, dan pemberi suara

Memberikan suara adalah salah satu tindakan terakhir dalam kampanye pemilihan umum, suatu rangkaian pertukaran yang panjang dan kadang-kadang memanas yang membentuk proses komunikasi. Kampanye politik adalah penciptaan, penciptaan ualng, dan pengalihan lambing signifikan secara sinambung melalui komunikasi. Kampanye menggabungkan partisipasi aktif yang melakukan kampanye dan pemberi suara. Para pemberi suara secara selektif memperhatikan hal-hal tertentu dalam kampanye, memperhitungkannya dan menginterpretasikannya.

  • Menyusun tindakan memberikan suara

Banyak pertimbangan yang diperhitungkan ke dalam proses yang digunakan oleh pemberi suara untuk menetapkan putusan mereka. Tiga di antaranya sangat signifikan dalam membentuk latar belakang pemberi suara mempesepsi komunikasi tentang isu dan kandidat yang diterima selama kampanye – atribut, perspektif, dan persepsi memberi suara.

Atribut pemberi suara: Karakteristik sosial dan demografi, pola tradisionalnya ialah bahwa orang-orang yang paling cenderung mengambil bagian dalam politik adalah mereka yang pekerjaannya kelas menengah atau lebih tinggi, berpendidikan, berpendapatan sedang atau lebih baik, dan setengah baya.

Perspektif pemberi suara: Mengembangkan citra diri politik

Di antara pokok-pokok yang menguntungkan yang dibawa oleh pemberi suara ke dalam kampanye, yang diturunkan dari citra diri politik mereka yang berkembang, kita akan melihat: (1) identifikasi partisan, (2) kelas sosial, (3) kecenderungan ideologis, (4) konsepsi tentang sifat-sifat yang diharapkan pada pemegang jabatan yang ideal, dan (5) kekhawatiran pribadi.

  • Komunikasi politik dan citra pemberi suara

Para pemberi suara tidak hanya menjadi sadar akan isu, merumuskan citra atribut politik dan gaya pribadi kandidat, dan membentuk citra tentang partai politik dengan hidup sebagai pertapa yang terasing. Juga perspektif yang dibawa oleh mereka ke dalam kampanye tidak menetapkan lebih dulu persepsi mereka tentang isu, kandidat, dan partai. Akan tetapi, dalam waktu di antara pemilihan dan selama kampanye tertentu, mereka diterpa berbagai media politik – interpersonal, organisasi, dan massa.


BAB XII

MEMPENGARUHI PEJABAT: Konsekuensi Komunikasi Kebijakan

Tujuan bab ini ialah menskemakan garis-garis komunikasi dua arah menghubungkan warga Negara dan pejabat, yakni apa yang disebut komunikasi politik.

Perwakilan: Berkomunikasi tentang kebijakan

Perwakilan itu memerlukan alat untuk menyampaikan persetujuan yang dinyatakan atau disiratkan itu kepada sejumlah pejabat yang lebih kecil yang bertindak untuk kepentingan komunitas. Ringkasnya, perwakilan terjadi jika garis-garis komunikasi menghubungkan publik pembuat kebijakan, garis yang menyalurkan preferensi kebijakan, keputusan dan penerima atau penolakan.

Penyusunan citra pembuat kebijakan: Sumber opini publik bagi pejabat

Dalam menaksir perasaan rakyat, suasana hati massa, dan tuntutan berkepentingan khusus, pembuat kebijakan mengandalkan berbagai sumber. Masing-masing akan kita telaah berdasarkan perkiraan urutan kepentingannya dalam membimbing perbuatan pejabat.

  • Pandangan pejabat terhadap yang Banyak: Opini rakyat dan kebijakan pemerintah

Dua susunan kelembagaan utama, yang satu sangat tua dan yang lain relatif baru, menunjukkan trend dalam kepercayaan, nilai, dan pengharapan rakyat terhadap pejabat pemerintah: pemilihan umum dan polls (penghitungan suara)

  • Pandangan pejabat pada yang satu: Konsensus massa dan kebijakan pemerintah

Di antara sumber-sumber yang diperhatikan oleh sang pejabat pemerintah sebagai indicator consensus politik, ada tiga yang menonjol: tingkat dukungan massa yang berubah-ubah terhadap lembaga politik yang diukur melalui survai opini, isi media massa, dan perhatian yang diungkapkan melalui gerakan massa.


  • Pandangan pejabat pada yang sedikit: Publik opini dan kebijakan pemerintah

Di antara ketiga wajah opini publik, pembuat kebijakan menganggap wajah yang sedikit itu paling memikat. Ia dating kepada pembuat kebijakan dalam dua topeng, sebagai kepentingan yang tak terorganisasi dan yang terorganisasi.

Pesan dari yang tak terorganisasi, cara kedua agar tuntutan yang sedikit yang tak terorganisasi sampai ke telinga pembuat kebijakan ialah melalui hubungan pribadi antara warga Negara dan pemerintah. Hubungan ini mencakup surat, telepon, komunikasi tatap muka, dan konfrontasi dengan pejabat dalam pemeriksaan umum.

Pesan dari yang terorganisasi, salah satu sumber utama yang diperhitungkan pembuat kebijakan dalam membuat citra tentang opini public ialah informasi dari juru biacara kepentingan terorganisasi.

Pembuat kebijakan: Konvergensi selektif, kontrol sosial, atau negosiasi?

Ketiga tentang bagaimana komunikasi kebijakan dapat diorganisasi dan kebijakan dibuat. model itu ialah model plebisit, model rasional kompherensif, dan model adjustif.

  • Model plebisit

Plebisit adalah pemilihan yang di dalamnya orang memberikan suara langsung kepada usul atau program yang diajukan kepada mereka oleh pemimpin politik. Pemilihan ini untuk menerima atau menolak suatu kebijakan setiap pemberi suara akan memilih, dan dengan cara mengovergensikan pilihan individual, suara itu membentuk pilihan rakyat.

  • Model rasional-komprehensif

Model ini bermaksud melukiskan suatu cara mengorganisasi komunikasi kebijakan. Pertama, pembuat kebijakan memperhitungkan masalah yang memerlukan tindakan, masalah yang terpisah dari bidang masalah yang lain. Kedua, pembuat kebijakan menjelaskan tujuan, nilai, dan sasaran yang harus dicapai dalam menangani masalah itu. Ketiga, pembuat kebijakan mengindentifikasi pemecahan alternatif dan meneliti masing-masing; penelitian ini mempertimbangkan seluruh informasi mengenai konsekuensi yang diharapkan dari penerimaan pemecahan mana pun. Keempat, pembuat kebijakan mempertimbangkan pengorbanan dan keuntungan relatif dari setiap alternatif, membandingkan pilihan, dan memilih alternatif yang memaksimalkan tujuan, nilai, dan sasaran yang disepakati.


  • Model adjustif

Model adjustif menerima dunia sehari-hari yang mengandung ketidakpastian dan kemungkinan yang tak tersingkap, dari kecenderungan dan kepastian yang dipersepsi.

Snorkeling versi Cerpen

Asiknya, Snorkel di Karang 'Meong'

Tepat jam 11 siang ku mulai perjalanan menuju Karang Meong, Bandulu, Anyer. Ku pacu langkah cepat-cepat demi kesempatan yang indah ini, berminggu-minggu sudah otak ku penat karena setumpuk tugas kuliah dan pekerjaan yang tanpa jeda terus mengejar ku hingga minggu ke empat dalam bulan April ini.

Setelah sampai di perempatan Warnasari Cilegon alamat tempat tinggal ku, disitu menyetop angkutan umum jurusan Anyer. Dalam perjalanan ku isi dengan kebiasaaan lama, membaca. Tetapi setelah 37 menit angkutan yang ditumpangi tiba-tiba bergoyang ke kanan, lantas aku terkejut dengan itu. Setelah di amati, lubang berukuran dua meter dengan kedalaman tidak sampai satu meter telah mengusik konsentrasi membaca ku. Melewati jalan yang tak pantas dilewati ini, dalam hati berkecamuk seperti inikah jalan yang pantas untuk dilalui wisatawan yang ingin melihat dan berenang menikmati indahnya pantai Anyer.

Namun apa daya satu-satunya jalur yang dapat dilalui angkutan umum hanyalah itu. Sebenarnya dapat saja membawa kendaraan pribadi, melewati jalur mancak agar lebih nyaman. Kita pub dapat menyiram mata dengan warna-warna hijau dari hamparan sawah yang terbentang luas serta pohon-pohon berumur 5 tahun di kanan-kiri, jalan begitu rindang untuk dilalui. Jalur itu akan tembus di pasar tepat di lapangan Anyer yang berhadapan dengan Masjid Agung.

Setelah menempuh satu jam perjalanan bersama penumpang dan abang supir angkutan umum berwarna silver, aku mengeluarkan kocek Rp. 5.000. Sampailah aku di depan hotel Jayakarta. Usai turun dari angkutan, aku berjalan menuju basecamp Bandulu Surfing Club (BSC) tepat di tempat itu brother-brother enjoy menikmati angin dan mengamati Ombak.

Oh, ia aku ke tempat bernuansa kafe itu bukan sekedar nongkrong-nongkrong tanpa alasan ataupun bermain pasir membuat istana bersama anak berumur lima tahun, yang kadang terkikis ombak jika menepi. Tujuan ku saat itu menemui teman semasa putih abu, Aldy Suardi.

Sapa, saja ia Bek. Begitu akrab jika kalian memanggilnya seperti itu. Nama ku Ucup kawan-kawan, mirip sunda tapi biarlah toh orangtua ku yang memberi nama itu. Bek menyambut ku sehangat dulu, “Apa kabar, brother? Sibuk aja nih, nggak sempat nyicipin ombak kemarin-kemarin,” katanya sambil menyuruh ku duduk di bangku kayu jati. Beberapa bulan lalu memang ombak sedang asik untuk diajak bermain, entahlah padahal kemarin musim barat. Mungkin alam berbicara lain untuk ini.

Kopi hangat khas bercampur susu, langsung disuguhi Bek di hadapan ku. “Santai dulu lah, lagian di jalan capek kan? Banyak lubang yang nggak ke tutup,” tutur pria berumur 20 tahunan ini. Saat itu juga tanpa Ba Bi Bu, ku seruput kopi itu. Perlahan menikmati harumnya biji kopi yang diolah secara modern bercampur khasnya susu, sangat nikmat kawan. Indonesia memang rajanya kopi. Terasa hangat setelah kopi itu menelusuri bagian rongga mulut ku, sambil terpaan angin memanggil ku untuk segera terjun. Ahh, mungkin ini pertanda angin pantai dan ombak tahu akan keinginan ku hari ini.

Melihat ombak yang saling berkejaran rasanya tak sampai setinggi lima meter sekedar untuk memanasi papan surfing yang sudah lama tak ku goda tubuhnya. Tapi, Bek punya strategi lain untuk ini yakni Snorkeling.

Snorkeling? Dimana?,” tanya ku. “Wah ketinggalan info nih, brother. Tenang aja pokoknya ngikut saya aja,” tutur Bek.

Walaupun ini akan menjadi pengalaman pertama, sepertinya aku mempunyai feel yang pas untuk berenang melihat indahnya karang. Setelah menyeruput kopi hingga setengah gelas dan jam tangan menunjukkan 14.30 WIB, aku bersama Bek mempersiapkan peralatan seperti Mask AmScuD, dan fin.

Cukuplah itu, kami berdua meluncur ke spot snorkel, Karang Meong. "Dulunya pernah ditemuin karang berbentuk kucing di spot ini makanya dinamain karang meong," cerocos Bek pada ku ketika menuju spot sambil menyusuri garis pantai sepanjang 500 meter untuk sampai ditempat itu. Tak sampai 15 menit usai berjalan di tengah tajamnya karang yang bisa merobek permukaan kulit akhirnya tiba di spot.

Berbekal surfboard berukuran kecil kami langsung menceburkan diri. "Kalau udah nyampe spot jangan sampe injek karang ya cup, ntar saya hukum," ujar Bek memperingatkan ku. Itulah pelajaran pertama yang harus ku ingat, karang membutuhkan waktu lama untuk berkembang menjadi indah dan tumbuh sesuai ukurannya bahkan hingga 100 tahun lamanya, untuk tempat seperti 'nemo' bernaung.

Tak lama aku paddle (istilah mendayung saat tubuh berada di surfboard) hampir sampai di spot Bek menyuruh ku untuk memakai Mask AmScuD dengan rapat, dan kembali memperingatkan agar kaki ku jangan sampai turun menginjak karang. Tanpa do re mi, Bek men-training ku sesaat untuk menggunakan peralatan snorkel. Ahh tidak mudah ternyata bernafas menggunakan mulut melalui pipa kecil menjulang ke atas untuk mengambil oksigen (O2). Beberapa latihan singkat, jujur aku merasa gugup dan panik, namun itu tak lama. Mulai lah aku beradaptasi dengan alat penyiksa hidung itu.

Berhasil menguasai Mask AmScuD aku dituntun menuju spot utama, sebenarnya jantung ini masih berdegup kencang dan nafas masih ngos-ngosan layaknya pemanjat tebing yang baru sampai dakian setengahnya.

Tapi, belum sampai spot utama aku memberanikan diri untuk melongok ke bawah air dan ternyata 'Subhanallah' kawan-kawan, takjub saya melihatnya. Karang lebar dengan warna oranye kemerah-merahan menyambut kedatangan saya. Terus saya lanjutkan ke depan, dan semakin tertantang untuk lebih jauh mengitari spot snorkeling. Dan 'Wow' terumbu karang lain turut menyapa ku, berwarna-warni, ungu, merah kepiting, hijau muda, sampai hijau tua. Bercampur menjadi satu di beberapa tempat terpisah dengan ukuran berbeda.

Bertemu Chaetodontidae ikan jenis gepeng yang mempunyai warna hitam, kuning, oranye, dan putih dengan moncong di mulutnya. Ku amati sedang mematuk-matuk ke karang sepertinya ia sedang menikmati santap siangnya, dengan menu plankton, atau alga. Menjumpai ikan lucu dan indah ini sebelumnya hanya pernah ku jumpai di televisi atau video youtube saja. Tapi saat ini aku benar-benar nyata, melihatnya dengan mata secara telanjang mengitari karang.

Pengalaman yang indah, menakjubkan. Menjumpai karang berjenis bunga, bentuk piringan bertumpuk pun ku jumpai hingga karang berwarna-warni berjejer indah sesuai susunan anak tanggu lagu. Begitu indah untuk dilihat dan dinikmati. Spot yang saya datangi tidak lah dalam, tapi dangkal berjarak 4M hingga 1M. Sebabnya kita snorkel disiang hari. Kehati-hatian mulai teruji disini, pesan Bek pun terngiang-ngiang keras di telinga ku.

Karang-karang indah ini berjejer tepat didepan muka ku. Perlu kehati-hatian yang ekstra untuk melihatnya, tapi sangat beruntungnya diri ku dapat melihat pemandangan sedekat ini. Lagi, Subhanallah ciptaan Allah SWT ini.

Beberapa lama aku menyelam, ku naikkan kepala untuk beradaptasi dengan udara menggunakan hidung melepas Mask AmScuD, dan ngobrol dengan Bek. "Kalau aja cuacanya nggak mendung pasti keren cup, nggak kalah lah sama Bunaken," katanya. Sayangnya hoki ku tidak bagus cuaca pun kurang mendukung, aku ber-snorkel sehabis hujan dan awan sedikit mendung akibatnya air laut tidak sejernih di Raja Ampat.

Aku teruskan penelusuran bawah air ini dengan rileks, begitu menikmati pemandangan taman laut Karang Meong ini. "Kalau saja dikelola secara profesional pasti pantai Anyer semakin ramai wisatawan," pikir ku sambil terus mengayuhkan fin.

Satu Setengah jam kami berada disitu. Berhubung cuaca dingin hingga berpengaruh ke air, Bek berinisiatif untuk menepi karena dirinya merasa lapar. Tak lama kami paddle kembali, sambil menyelamkan kepala ke dalam air walaupun tidak jernih tetapi karang yang bukan di spot utama tidak kalah indah dan menarik, uniknya kami diikuti ikan kecil berwarna kuning oranye bergaris hitam ditubuhnya. Ikan itu terus mengikuti hingga beberapa meter dari tepian kemudian kabur kembali ke tengah.

Setelah menyelam kami beristirahat sekitar 10 menit ditepian hingga mengentaskan petualangan kami pada hari itu, menakjubkan dapat melihat taman laut. Menurut ku tak hanya taman bunga di Bogor saja yang indah, taman bawah laut lebih menakjubkan, pemirsa.

Lagi, dan lagi aku mengentaskan tubuh di pinggiran pantai bertatap muka dengan pengunjung pantai yang pada hari itu tampak ramai, walaupun cuaca sedikit mendung. Se-tibanya aku di basecamp langsung, ku lontarkan pujian ke om Ekeng, pendiri BSC. "Keren om, bagus banget. Ajib dah, kapan-kapan saya boleh coba lagi nih," kata ku sambil tertawa kedinginan akibat angin pantai yang lumayan kencang pada hari itu. Dan sederet pujian lain pun tak bisa diucapkan karena ketakjuban saya pada karang itu. “Santai lah, kalau udah bisa sendiri. Pakai aja, peralatannya di basecamp,” kata Om Ekeng.

Membasuh badan menggunakan air biasa membuat badan ini kembali segar dan tak terasa lengket karena air laut. Kami kembali ke basecamp, lalu bertemu dengan Om Ekeng ngobrol ngalor-ngidul, ke sana-kemari. Walaupun seperti itu, kami selipi gelak tawa, lalu berujung pada pembicaraan kami yang serius, yaknipariwisata Anyer.

Ia mengajak ku untuk turut memperbaiki wisata Anyer terutama pantainya, langsung semangat di hati ku membuncah begitu diajaknya. Dipikiran Lelaki berwajah 30 tahunan ini, terdapat beberapa rencana yang begitu indah dan menarik.

Ia ingin mengelola organisasi pimpinannya menjadi wadah usaha di bidang jasa yang menawarkan guide secara profesional. Long boat, Rumpon (tempat mancing ditengah pantai) pun menjadi keinginan nya untuk investasi ke depan, guna BSC. Walaupun saat ini paket wisata karakatau, pulau sanghiang, snorkeling dipromosikan secara sederhana, tetapi tetap dikelolanya dengan profesional. Alhasil banyak wisatawan yang menggunakan jasa paket wisatanya itu.

Jika saja pemerintah benar-benar peduli dengan sumber daya alam yang ada. Dan tinggal mengembangkannya secara profesional saja. Anyer, Kabupaten Serang, Banten, Indonesia akan menjadi destinasi pariwisata terbaik di dunia dan akan menyedot puluhan juta bahkan milyaran wisatawan baik nasional maupun internasional.

Semangat untuk memajukan bangsa, wisata Indonesia dan menjaga aset alam terbaik titipan Allah yang diberikan. Semangat itu tetap ada di dalam Diriku.